Archive | Pancasila RSS feed for this section

Manusia sebagai Makhluk Individu, Sosial dan Budaya

18 May

Pengertian manusia sebagai makhluk individu adalah seorang manusia tidak hanya memiliki peranan khas di dalam lingkungan sosialnya, melainkan juga mempunyai kepribadian serta pola tingkah laku spesifik dirinya. Individu tidak akan jelas identitasnya tanpa ada suatu masyarakat yang menjadi latar belakang keberadaannya. Kehadiran individu dalam suatu masyarakat biasanya ditandai oleh perilaku individu yang berusaha menempatkan dirinya di hadapan individu-individu lain yang telah mempunyai pola perilaku yang sesuai dengan norma-norma di tempat ia berada.

Tidak mungkin manusia secara individu berkembang tanpa ada lingkungan atau tempat untuk berkembang dan berinteraksi. Manusia sejak lahir sampai mati selalu hidup dalam masyarakat, tidak mungkin hidup di luar masyarakat. Pada hakekatnya, manusia adalah makhluk sosial yang memiliki dorongan atau hasrat untuk bermasyarakat. Manusia sebagai makhluk individu bertindak dan bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri, sedang sebagai makhluk sosial ia harus bertindak sesuai dengan pola masyarakat dan bertanggung jawab serta mempertanggungjawabkan perbuatannya kepada masyarakat.

Sebagai makhluk budaya, manusia mempunyai akal dan jiwa yang mengatur atau menentukan bagaimana ia berperilaku. Mengingat hal itu, maka tindakan-tindakan yang ia lakukan harus memiliki aturan-aturan yang dijadikan sebagai acuan atau pedoman hidup bersama. Aturan-aturan perilaku hidup bersama tersebut dijiwai oleh suatu nilai yang dianggap tinggi, penting dan berharga oleh suatu masyarakat yang disebut nilai budaya. Nilai-nilai budaya yang mewarnai pola-pola kehidupan bersama dalam masyarakat yang satu akan berbeda dengan nilai budaya masyarakat di wilayah lain. Perbedaan itu terjadi karena cara pandang yang berbeda terhadap acuan hidup yang ditunjukkan dengan penundukan diri terhadap nilai budaya itu.

Pengertian Paradigma dan Pancasila sebagai Paradigma Pembangunan

18 May

Judul : FILSAFAT ILMU DAN METODOLOGI POSMODERNIS

Pengarang: Dr. Akhyar Yusuf Lubis

Data Publikasi: Penerbit AkaDemiA, BYRU-Yogyakarta, 2004, 235

Awalnya istilah paradigma digunakan dalam filsafat ilmu pengetahuan. Thomas Khun berpendapat bahwa ilmu pengetahuan pada suatu waktu didominasi oleh paradigma.

Paradigma adalah pandangan mendasar para ilmuan tentang apa pokok persoalan suatu cabang ilmu pengetahuan. Lalu istilah paradigma berkembang seiring dengan berjalannya waktu. Paradigma berkembang menjadi suatu kerangka berpikir, bertindak, acuan, sumber, tolok ukur, arah dan tujuan. Bila sesuatu dijadikan paradigma berarti sesuatu itu menjadi kerangka berpikir, tolok ukur, arah dan tujuan dalam melakukan sesuatu. Dengan demikian paradigma menduduki posisi tertinggi dan penting dalam melaksanakan semua hal dalam kehidupan manusia. Menurut Thomas Samuel Kuhn, filsuf AS yang memberikan sumbangan penting dalam ilmu pengetahuan kontemporer, paradigma berarti pola, model atau skema pemahaman aspek-aspek tertentu tentang realitas (kenyataan). Dalam kegiatan ilmiah, paradigma merupakan pilihan pada proses pikir atau metode tertentu, sehingga kebenarannya dibatasi oleh pola atau metode yang dipergunakan.  Maka, paradigma digunakan oleh para ilmuan untuk menentukan apa yang harus dipelajari, apa yang harus dijawab, bagaimana sebaiknya dalam menjawab suatu persoalan.

Paradigma mengandung sudut pandang, kerangka acuan yang harus dijalankan ilmuan yang mengikuti paradigma tersebut. Dengan paradigma, seorang ilmuan dapat menjelaskan dan menjawab masalah dalam ilmu pengetahuan.

Pancasila menjadi paradigma bangsa Indonesia, artinya Pancasila menjadi pilihan bangsa Indonesia yang memberikan arah atau pola kehidupan berbangsa dan bernegara dalam berbagai bidang kehidupan, dari bagian paling dasar, yaitu ideology, sampai ke bidang teknis, yaitu pembangunan. Pancasila sebagai paradigma berarti nilai-nilai dasar Pancasila secara normatif menjadi dasar, kerangka acuan dan tolok ukur dalam segenap aspek pembanguan nasional di Indonesia. Hal ini adalah konsekuensi dari pengakuan Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi nasional. Maka tidaklah mengherankan bila Pancasila dijadikan tolok ukur dan landasan dalam bernegara , termasuk dalam melaksanakan pembangunan.

Nilai dasar pancasila dikembangkan menurut hakekat manusia, yang menurut Pancasila adalah makhluk monopluralis. Ciri-ciri kodrat manusia monopluralis:

  1. Susunan kodrat manusia terdiri atas jiwa dan raga.
  2. Sifat kodrat manusia sebagai individu sekaligus sosial.
  3. Kedudukan kodrat manusia sebagai makhluk pribadi dan makhluk Tuhan.

Berdasarkan hal di atas, pembangunan nasional diarahkan untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia dalam aspek jiwa dan raga, pribadi, sosial dan aspek ketuhanan, atau singkatnya pembangunan nasional meningkatkan manusia secara totalitas. (exalute.wordpress.com/2008/07/24/pancasila-sebagai-paradigma-pembangunan)

Hakekat dari pembangunan nasional adalah pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan masyarakat Indonesia seluruhnya dengan Pancasila sebagai dasar, tujuan dan pedomannya.

Perubahan berarti pembaharuan, dan dalam kerangka pembangunan nasional pembaharuan dilakukan dengan mengembangkan kepribadian bangsaIndonesia sendiri sehingga tidak kehilangan identitas diri bangsa dan tetap membuka diri terhadap kemajuan yang positif dari bangsa lain terutama kemajuan IPTEK.

Dengan kata lain, pembangunan nasional bertumpu pada kemampuan, kemandirian, kebersamaan, keadilan dan kemanfaatan bagi bangsa Indonesia. Kerjasama dengan negara lain tetap diperlukan selama tetap bisa menjaga jati diri bangsa.

Dalam praktik, pelaksanaan Pembangunan Nasional dilakukan melalui sebuah kegiatan nasional yang mencerminkan program, pola dan sasaran dalam tahapan tertentu dengan tetap konsisten demi terwujudnya tujuan nasional.

Pembangunan nasional menjadi kewajiban seluruh bangsa Indonesia dengan pemerintah dan lembaga legislatif dan eksekutif nenegang peranan utama. Kesadaran secara nasional akan pembangunan nasional menjadi kunci keberhasilan pembangunan nasional. Yang menjadi modal penting dalam menentukan keberhasilan pembangunan nasional adalah insan akademik, sebagai unsur masyarakat yang terdidik.