Advertisements

Tingkat Keanekaragaman Hayati

12 Jan

‘Berbeda-beda tetapi tetap satu jua’. Mungkin kita sering mendengan slogan itu ya? Yup, slogan tersebut merupakan slogan yang sering kita dengar untuk menggambarkan betapa banyaknya keanegaragaman yang ada di Indonesia. Kontur alam yang ada di Indonesia bagian Barat, tentunya berbeda dengan kontur alam yang ada di Indonesia Timur. Kemudian, walaupun berasal dari suku yang sama, warna kulit ataupun bentuk rambutpun bisa aja berbeda. Itu baru se-Indonesia, gimana kalo perbedaan yang ada di seluruh dunia ya? Pasti banyak yaa :D. Kira-kira kalian tau ga perbedaan atau keanekaragaman tersebut disebabkan oleh apa? Nah, sebelumnya, kita cari tau dulu yuk, sebenarnya keanekaragaman itu apa dan ada apa aja?

keanekaragaman

Keanekaragaman merupakan hayati (biodiversitas) merupakan keanekaragaman organisme yang menunjukkan keseluruhan atau total dari variasi ges, jenis, dan ekosistem yang ada di bumi. Dan ya, pada dasarnya, biodiversitas dibagi menjadi tiga unsur tersebut, yaitu gen, jenis, dan ekosistem.

Keanekaragaman Gen

Pernahkan kalian mendengar mengenai gen? Gen merupakan substansi kimia yang ada di dalam tubuh makhluk hidup yang selanjutnya akan diwariskan pada keturunan. Gen ini tersimpan dalam lokus kromosom yang juga berada dalam tubuh makhluk hidup.

Semua makhluk hidup memiliki komponen gen yang sama yaitu sama-sama mengandung asam nukleat. Namun, susunan dan jumlah gen bisa berbeda-beda. Hal inilah yang menyebabkan keanekaraman gen. Terlebih lagi, jika terjadi perkawinan atau persilangan antar individu dengan karakter yang berbeda. Hal tersebut tentunya akan menghasilkan keturunan yang merupakan kombinasi dari kedua individu beda karakter tersebut dan variasi yang dihasilkan juga lebih banyak. Misalnya A berkulit putih dan berambut keriting menikah dengan B yang memiliki kulit hitam dan rambut lurus. Maka, kemungkinan anak A dan B akan berkarakter kulit putih rambut keriting, kulit putih rambut lurus, kulit hitam rambut keriting, atau kulit hitam rambut lurus. Belum lagi jika terjadi mutasi. Nah, makin banyak kan variasinya?

Akan tetapi, perbedaan fisik yang merupakan salah satu cerminan dengan keanekaragman gen, ternyata tidak hanya dipengaruhi oleh keanekaragaman gen saja. Namun, lingkungan juga mempengaruhi terbentuknya perbedaan fisik lho. Yupp

Fisik (Fenotip) = Genotip + Lingkungan.

Misalnya nih, orang yang hidup di pantai dan pegunungan memiliki struktur atau jumlah gen yang sama. Namun, mereka tinggal hidup di lingkungan yang beda, yaitu pantai dan pegunungan. Seperti yang kita tahu, tekanan di pegunungan lebih tinggi daripada di pantai. Hal tersebut akan menyebabkan kadar oksigen yang ada di pegunungan lebih rendah. Nah, sebagai bentuk adaptasi, orang pegunungan akan memiliki eritrosit atau sel darah merah yang lebih banyak dibandingan orang pantai. Pada akhirnya, umumnya orang pegunungan akan terlihat memiliki pipi yang kemerahan sebagai cerminan dari kandungan eritrosit yang banyak.

Keanekaragaman Jenis

Keanekaragaman Jenis menunjukkan variasi yang terdapat pada makhluk hidup antar jenis. Misalnya, terdapat dua individu yang berada dalam 1 famili, namun mereka berbeda jenis, seperti kucing dan harimau yang sama-sama berada dalam Famili Felidae, namun mereka berbeda jenis.

Keanekaragaman Ekosistem

Ekosistem merupakan salah satu tingkatan ekologi dimana didalamnya terdapat hubungan antar biotik atau hubungan antara makhluk hidup dengan makhluk hidup dan hubungan antara biotik (makhluk hidup) dengan abiotik (benda tidak hidup) atau dengan kata lain hubungan makhluk hidup dengan lingkungannya.

Komponen abiotik bermacam-macam, misalnya tanah, air, udara, topografi, dan iklim. Akibat adanya perbedaan abiotik atau lingkungan tersebut, makhluk hidup yang tinggal atau mendiami suatu daerahpun bermacam macam, tergantung dari kemampuan adaptasi atau ketahanan makhluk hidup terhadap lingkungan tersebut. Misalnya, kita dapat menemukan kaktus di gurun karena kaktus memiliki bentuk adaptasi dengan lingkungan gurun yang hanya memiliki sedikit kandungan air. Namun, kita tidak dapat menemukan kaktus di daerah pesisir, karena kaktus tidak dapat beradaptasi dengan lingkungan pesisir yang memiliki air dengan kandungan garam yang tinggi. Hal tersebut bertentangan dengan mangrove yang dapat hidup di pesisir, namun tidak dapat hidup di gurun. Oleh karena hal tersebut, terbentuklah ekosistem gurun dengan tumbuhan yang didominasi oleh kaktus dan ekosistem pesisir yang didominasi oleh mangrove. Selain gurun dan pesisir, terdapat pula ekosistem hutan tropis, sabana, stepa, dll.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: