Archive | Audit RSS feed for this section

Standar Umum Saldo Yang Berhubungan Dengan Tujuan Audit

14 May

Saya akan membahas standar umum saldo yang berhubungan dengan tujuan audit (general balance-related audit objectives). Terdapat 8 standar, yakni:

1. Existence : Apakah seluruh saldo benar-benar ada?

2. Completeness : Apakah seluruh jumlah atau saldo sudah disajikan seluruhnya?

3. Accuracy : Apakah seluruh jumlah saldo disajikan dalam jumlah yang benar atau akurat?

4. Classification : Apakah saldo atau jumlah sudah diklasifikasikan dengan benar?

5. Cutoff : Apakah saldo atau jumlah sudah dicatat pada periode yang benar?

6. Detail tie-in : Apakah saldo perkiraan sudah sesuai dengan master file dan general ledger?

7. Realizable value : Apakah aset sudah dicatat dan diestimasi dengan nilai yang dapat direalisasikan?

8. Rights and obligations : Apakah aset benar-benar merupakan “milik” perusahaan?

Standar Umum Transaksi Yang Berhubungan Dengan Tujuan Audit

14 May

Tujuan dari atas audit laporan keuangan adalah untuk menyatakan pendapat tentang kewajaran, dalam semua hal yang material, posisi laporan keuangan, hasil operasi serta arus kas sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum. Berikut ini saya akan mengemukakan mengenai 6 standar umum transaksi yang berhubungan dengan tujuan audit (general transactions-related audit objectives).

1. Occurrence : Apakah transaksi yang dicatat benar-benar terjadi?

2.Completeness : Apakah semua transaksi yang seharusnya sudah dibukukan dalam F/S?

3. Accuracy : Apakah semua transaksi sudah dibukukan dengan benar atau akurat?

4. Posting and summarization : Apakah transaksi yang dicatat  telah dimasukkan dalam master file (buku besar) dan diikhtisarkan dengan benar

5. Classification : Apakah seluruh transaksi telah dikelompokan dengan benar?

6. Timing : Apakah seluruh transaksi  sudah dicatat sesuai tanggal seharusnya?

Kontrol Internal (Internal Control)

14 May

Kontrol internal (internal control) adalah pengendalian di dalam organisasi dengan membuat sistem yang meminimalisasi risiko manajemen dalam mencapai tujuan organisasi.

Tujuan kontrol internal

Adapun tujuan dari kontrol internal, yaitu:

1. Reliabilitas pelaporan keuangan

Manajemen bertanggung jawab untuk menyiapkan laporan untuk para investor, kreditor, dan pengguna laporan keuangan lainnya. Manajemen mempunyai tanggung jawab yang sah dan profesional untuk meyakinkan bahwa informasi yang disampaikan telah mengikuti GAAP. Tujuan kontrol internal yang efektif adalah untuk memenuhi tanggung jawab manajemen menyangkut laporan keuangan.

2. Efisiensi dan efektivitas operasi

Kontrol di dalam perusahaan mendorong efisiensi dan efektivitas dari penggunaan sumber daya untuk mengoptimalkan tujuan perusahaan. Tujuan penting dari control ini adalah informasi finansial dan informasi nonfinansial yang akurat tentang operasi perusahaan untuk pengambilan keputusan.

3. Kepatuhan terhadap hukum dan peraturan

Section 404 Sarbanes-Oxley Act mensyaratkan seluruh perusahaan publik mengeluarkan laporan tentang efektivitas kontrol internal menyangkut pelaporan keuangan. Selain itu, Section 404 juga mengatur bahwa perusahaan publik, nonpublik, dan nirlaba harus mengikuti hukum dan peraturan yang berlaku. Beberapa peraturan berhubungan secara tidak langsung dengan akuntansi, misalnya environmental protection dan civil right laws. Peraturan yang lain berhubungan dekat dengan akuntansi, misalnya pajak penghasilan.

Kecurangan (Fraud)

14 May

Kecurangan (fraud) tindakan melanggar hukum yang dilakukan oleh orang di dalam atau di luar organisasi dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau kelompok dan merugikan orang lain. Saya akan mengupas lebih jauh mengenai fraud berikut ini.

Tipe-tipe Fraud

1. Pelaporan keuangan yg curang (Fraudulent financial reporting)

2. Penyalahgunaan asset (Misappropriation of assets) 

Faktor risiko (Risk Factors) Penyebab Pelaporan Curang ( Fraudulent Reporting)

1. Incentives/Pressures

– Laba Perusahaan turun akibat krisis

– Tekanan kpd manajemen terhadap suatu kondisi yg dipersyaratkan pihak lain, mis : pemberian kredit

– Kinerja perusahaan yang turun mengancam kekayaan pemegang saham atau manajemen

2. Opportunities

– Kebijakan akuntansi yang grey-area dan sulit diverifikasi

– Kelemahan dari  Manajemen dan tidak efektifnya Komisaris dan Komite Audit

– Tidak efektifnya dan seringnya berganti personil di fungsi-fungsi strategis seperti akuntansi, internal auditor dan pengelola IT.

3. Attitudes/Rationalization

– Nilai-nilai perusahaan (value) dan komunikasi yg tidak tepat

– Sikap permisif  dan penegakan hukum (sanksi) yg lemah.

– Forecasting yang tidak realistis mendorong pencapaian target yg agresif.

Faktor Risiko (Risk Factors) penyebab Penyimpangan aset (Misappropriation of Assets)

1.  Incentives/Pressures

– Tekanan pemenuhan kebutuhan pribadi dengan mencuri kas atau aset lainnya

– Komunikasi dan  hubungan yang buruk antara manajemen dan pegawai, misalnya sakit hati dan dendam den membalasnya dengan upaya untuk menimbulkan kerugian bagi Perusahaan

2. Opportunities

– Kondisi aset yang mendorong terjadinya fraud misalnya jumlah kas yang besar, inventory kecil bernilai tinggi, piutang yang tidak dibukukan dengan baik.

– Pengendalian internal yang lemah misalnya karena tidak adanya pemisahan fungsi, tidak adanya cuti wajib, tidak adanya rotasi berkala bagi pemegang aset.

3. Attitudes/Rationalization

 – Meremehkan monitoring terhadap penyalahgunaan aset

– Meremehkan pengendalian internal dengan membiarkan deviasi yang kecil, misal tdak menghitung uang kecil, membiarkan kendaraan dinas utk kepentingan pribadi.

Risiko Audit

13 May

Ini merupakan risiko bahwa auditor akan menyimpulkan bahwa laporan keuangan disajikan secara wajar dan opini wajar tanpa pengecualian dapat dikeluarkan ketika dalam kenyataannya entitas tersebut mengalami salah saji material. Risiko audit ada 4 macam:

1. Inherent Risk

Inherent risk adalah risiko terjadinya salah saji material dalam laporan keuangan karena tidak adanya kontrol internal di dalam suatu entitas. Misalnya tidak ada pemisahan tugas antara orang yang mengirimkan barang dan orang yang menerima barang. Maka salah saji secara material sangat mungkin terjadi karena bisa saja orang tersebut melakukan fraud.

2. Control Risk 

Control risk adalah risiko terjadinya salah saji material dalam laporan keuangan yang tidak dapat dicegah secara tepat waktu dengan kontrol internal.

3. Acceptable Audit Risk

Acceptable audit risk adalah risiko yang harus diterima oleh auditor karena laporan keuangan masih mengandung salah saji material setelah audit dilakukan.

4. Planned Detection Risk

Planned detection risk adalah risiko akibat auditor tidak dapat mendeteksi salah saji material yang terdapat dalam suatu asersi karena kesalahan penentuan prosedur audit atau menerapkan secara keliru prosedur yang semestinya, atau menafsirkan secara keliru hasil audit.

5 Macam Opini Audit

13 May
Opini audit adalah pernyataan auditor terhadap kewajaran laporan keuangan dari entitas yang telah diaudit. Kewajaran ini menyangkut materialitas, posisi keuangan, dan arus kas. Menurut SPAP (Standar Profesional Akuntan Publik), opini audit ada 5 macam, yaitu :
1. Pendapat wajar tanpa pengecualian
Pendapat wajar tanpa pengecualian menyatakan bahwa laporan keuangan menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi keuangan, hasil usaha, dan arus kas entitas tertentu sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia. Ini adalah pendapat yang dinyatakan dalam laporan auditor bentuk baku. Kriteria pendapat wajar tanpa pengecualian antara lain.
– Laporan keuangan lengkap
– Tiga standar umum telah dipenuhi
– Bukti yang cukup telah diakumulasi untuk menyimpulkan bahwa tiga standar lapangan telah dipatuhi
– Laporan keuangan telah disajikan sesuai dengan GAAP (Generally Accepted Accounting Principles)
– Tidak ada keadaan yang memungkinkan auditor untuk menambahkan paragraf penjelas atau modifikasi laporan
2. Bahasa penjelasan ditambahkan dalam laporan auditor bentuk baku
Keadaan tertentu mungkin mengharuskan auditor menambahkan suatu paragraf penjelasan (atau bahasa penjelasan yang lain) dalam laporan auditnya. Auditor menyampaikan pendapat ini jika:
– Kurang konsistennya suatu entitas dalam menerapkan GAAP
– Keraguan besar akan konsep going concern 
– Auditor ingin menekankan suatu hal
3.Pendapat wajar dengan pengecualian
Pendapat wajar dengan pengecualian, menyatakan bahwa laporan keuangan menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi keuangan, hasil usaha, dan arus kas entitas tertentu sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia, kecuali untuk dampak hal-hal yang berhubungan dengan yang dikecualikan.
4. Pendapat tidak wajar
Pendapat tidak wajar menyatakan bahwa laporan keuangan tidak menyajikan secara wajar posisi keuangan, hasil usaha, dan arus kas entitas tertentu sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia.
5. Pernyataan tidak memberikan pendapat
Pernyataan tidak memberikan pendapat menyatakan bahwa auditor tidak menyatakan pendapat atas laporan keuangan. Opini ini dikeluarkan ketika auditor tidak puas akan seluruh laporan keuangan yang disajikan.

Bukti-bukti Audit

13 May

Pada saat melakukan audit, auditor harus mencari bukti-bukti audit yang cukup dari kliennya. Terdapat 8 macam bukti audit.

1. Physical examination

Auditor melakukan penghitungan fisik dari aktiva berwujud. Biasanya aktiva yang dihitung dengan penghitungan langsung seperti ini adalah kas dan inventory.

2. Confirmation

Auditor melakukan pengecekan kepada pihak luar tentang informasi perusahaan. Misalnya, auditor ingin mengetahui jumlah kas perusahaan di bank. Auditor meminta bank untuk mengirimkan rekening koran kepadanya. Hal ini dilakukan agar data yang diterima auditor benar-benar merupakan data yang terpercaya.

3. Documentation

Inspeksi auditor atas dokumen-dokumen dari klien. Dokumen terbagi dua , yaitu internal documents dan external documents.

4. Analytical Procedures

Analytical procedurs mencakup memahami industri dan bisnis yang dilakukan klien, menilai kemampuan entitas untuk melaksanakan konsep going concern, mengindikasikan adanya kemungkinan misstatement di dalam laporan keuangan, dan mengurangi tes audit yang detail.

5. Inquiries of the client

Auditor mendapatkan informasi tertulis atau informasi oral dari klien (bertanya kepada klien).

6. Recalculation

Memeriksa kembali sampel penghitungan yang dibuat oleh klien.

7. Reperformance

Tes independen yang dilakukan auditor dari prosedur akuntansi klien atau mengontrol bahwa itu benar-benar selesai dilakukan.

8. Observation

Observasi dilakukan untuk menilai aktivitas klien. Auditor melakukan perjalanan untuk mendapatkan kesan dari aktivitas yang dilakukan klien.