Archive | Hukum RSS feed for this section

Jenis-jenis Perjanjian Dari Berbagai Segi

27 May

Hai semua 🙂

Di dalam ilmu hukum bisnis, terdapat beberapa jenis perjanjian ditinjau dari beberapa sudut pandang. Berikut ini penjelasannya.

—A. Perjanjian Menurut Sumbernya
—1. Perjanjian yang bersumber dari hukum keluarga, misalnya perkawinan;
—2. Perjanjian yang bersumber dari kebendaan, misalnya peralihan hak milik;
—3. Perjanjian obligatoir, yaitu perjanjian yang menimbulkan kewajiban;
—4. Perjanjian yang bersumber dari Hukum Acara;
5. —Perjanjian yang bersumber dari Hukum Publik.
—B. Perjanjian Menurut Namanya (1319 KUH Perdata)
—Ps 1319 KUH Perdata, perjanjian/kontrak menurut namanya :
1. Kontrak Nominaat (bernama)
Kontrak yang dikenal dalam KUH Perdata, misalnya jual-  beli, tukar-menukar, sewa-menyewa,   pinjam pakai, dll;
2. Kontrak Innominaat (tidak bernama)
Kontrak yang timbul, tumbuh, dan berkembang dalam masyarakat, misalnya leasing,   franchise, production sharing, dll;
—C. Perjanjian Menurut Bentuknya (1320, 1682 KUH Perdata)
1. —Perjanjian Tertulis
Suatu perjanjian yang dibuat oleh para pihak dalam bentuk tulisan. Ada 2 macam perjanjian tertulis:
– Akta dibawah tangan :
   a. Tanpa keterlibatan pejabat umum;
   b. Waarmerken (didaftar);
   c. Dilegalisasi.
– Akta autentik (notariil).
2. —Perjanjian Tidak Tertulis (Lisan).
—D. Perjanjian Timbal Balik
—1. Perjanjian Timbal Balik Tidak Sempurna
Selalu menimbulkan kewajiban pokok bagi satu pihak, sedangkan pihak lainnya wajib melakukan sesuatu.
2. —Perjanjian Sepihak
Perjanjian yang hanya menimbulkan kewajiban bagi satu dari para pihak.
—E. Perjanjian Cuma-Cuma 

1. Perjanjian Cuma-Cuma

Perjanjian yang menurut hukum hanya menimbulkan keuntungan bagi salah satu pihak. Contoh : hadiah dan pinjam pakai.

2. Perjanjian dengan Alas Hak yang Membebani

Perjanjian di samping prestasi pihak yang satu, senantiasa ada prestasi dari pihak lain.

—F. Perjanjian Berdasarkan Sifatnya
1. —Perjanjian Kebendaan
Perjanjian di mana hak kebendaan ditimbulkan, diubah, atau dilenyapkan. Contoh : Perjanjian pembebanan jaminan
2. —Perjanjian Obligatoir
Perjanjian yang menimbulkan kewajiban dari para pihak.
—G. Perjanjian dari Aspek Larangannya (UU No.5/1999)
—UU No.5/1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat , perjanjian yang dilarang :
1. Perjanjian oligopoli;
2. Perjanjian penetapan harga;
3. Perjanjian dengan harga yang berbeda;
4. Perjanjian dengan harga di bawah harga pasar;
5. Perjanjian bersyarat;
6. Perjanjian pembagian wilayah;
7. Perjanjian pemboikotan;
8. Perjanjian kartel;
9. Perjanjian trust;
10. Perjanjian oligopsoni;
11. Perjanjian integrasi vertikal;
12. Perjanjian tertutup;
13. Perjanjian dengan pihak luar negeri yang dapat mengakibatkan praktik monopoli dan atau persaingan tidak sehat.

Perbedaan Hukum Publik dan Hukum Privat

21 May

Hai semua 🙂 Di post kali ini, saya akan mengemukakan perbedaan antara hukum publik dan hukum privat. Oke kita langsung aja ya ke topik pembahasan. Secara sederhana, hukum dibagi menjadi dua bentuk, yaitu hukum publik dan hukum privat.

Hukum Publik

Hukum publik mencakup peraturan-peraturan hukum yang mengatur kekuasaan dan wewenang negara, serta mengatur hubungan hukum antara anggota masyarakat dan negara. Yang termasuk dalam hukum publik antara lain:

1. Hukum Tata Negara

Hukum tata negara adalah hukum yang mengatur tentang negara, yaitu antara lain dasar pendirian, struktur kelembagaan, pembentukan lembaga-lembaga negara, hubungan hukum (hak dan kewajiban) antar lembaga negara, wilayah dan warga negara.

2. Hukum Pidana

Hukum yang mengatur tentang pelanggaran dan kejahatan terhadap kepentingan umum serta perbuatan mana diancam dengan hukuman yang merupakan suatu penderitaan atau siksaan.

Hukum Privat

Hukum privat mencakup peraturan-peraturan hukum yang mengatur tentang hubungan antara individu dalam memenuhi keperluan hidupnya. Yang termasuk hukum privat antara lain:

1. Hukum Perdata

Rangkaian peraturan-peraturan hukum yang mengatur hubungan hukum antara orang yang satu dengan orang lain dengan menitikberatkan kepada kepentingan perseorangan.

2. Hukum Dagang

Peraturan yang mengatur hukum yang terkait dengan perdagangan.

Krisis Energi dan Pangan serta keterkaitan dengan beberapa aspek

18 May

Manusia Sebagai Makhluk Individu dan Sosial

Dalam sudut pandang ini, masalah dikaitkan dengan peranan manusia sebagai makhluk individu, sosial dan budaya. Perlu kita ketahui, bahwa terdapat asas egoisme dalam kehidupan manusia. Asas egoisme adalah asas yang mendahulukan kepentingan individu di atas kepentingan kelompok. Asas egoisme merupakan salah satu penyebab terjadinya masalah krisis energi dan pangan, seperti yang terjadi saat ini. Asas tersebut menyebabkan manusia tidak memperdulikan keadaan sekitarnya kecuali yang berhubungan dengan dirinya sendiri, dan hal tersebut mengakibatkan penggunaan sumber daya energi dan pangan yang ada secara tidak terkendali.

Akhlak Budi Pekerti dan Pemantapan Interaksi Sosial

Menurut sudut pandang ini, masalah dikaitkan dengan budi pekerti, akhlak baik yang seharusnya dimiliki oleh masyarakat, dan hubungan interaksi sosial di dalam masyarakat itu sendiri. Sebagai manusia yang berbudi pekerti luhur, sudah selayaknya kita menghindari perilaku yang mengakibatkan masalah yang berdampak kepada diri sendiri atau orang lain. Krisis energi dan pangan yang terjadi adalah hasil dari adanya perilaku pemborosan dan keserakahan manusia dalam penggunaaan dan pengelolaan sumber daya yang ada. Manusia seharusnya sadar dalam menggunakan sumber daya yang ada, dan untuk mewujudkan itu dibutuhkan interaksi sosial yang baik dan kekeluargaan dalam diri masyarakat itu sendiri. Interaksi sosial yang baik antara pemerintah dan masyarakat juga diperlukan untuk mengatasi permasalahan tersebut.

Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Dengan ilmu pengetahuan yang kita miliki, dan didukung juga oleh teknologi yang ada saat ini, kita seharusnya dapat mengatasi krisis energi dan pangan sedikit demi sedikit. Salah satu contoh kasus adalah substitusi penggunaan bahan bakar fosil dengan biodiesel, serta penggunaan bahan organik untuk dijadikan minyak tanah. Dengan ilmu pengetahuan yang ada, kita juga semestinya bisa memanfaatkan lahan yang ada di negara dengan sebaik baiknya untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat.

Nilai Kejujuran dan Tanggung Jawab

Menurut subpokok bahasan ini, masalah dapat dikaitkan dengan kurangnya nilai kejujuran dan tanggung jawab dalam masyarakat. Kurangnya tanggung jawab masyarakat dalam pendayagunaan sumber daya dan kurangnya nilai kejujuran dalam diri pribadi tertentu di masyarakat telah menyebabkan adanya krisis energi dan pangan seperti yang terjadi saat ini. Manusia harus mempunyai rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap dirinya masing masing, sehingga penggunaan sumber daya dapat terlaksana dengan baik dan tidak melebihi batas.

Penderitaan dan Kegelisahan

Krisis energi dan pangan telah menyebabkan adanya penderitaan dan kekhawatiran yang berkelanjutan dalam diri masyarakat. Penderitaan akibat masalah tersebut menyebabkan masyarakat mengalami suatu kondisi yang tidak menyenangkan dan membebani kehidupannya. Kekhawatiran dalam diri masyarakat berlanjut kepada adanya perasaan takut atau cemas dalam menjalani kehidupannya sekarang maupun esok.

Kebersamaan dan Pandangan Hidup

Manusia memiliki kecenderungan tidak mampu hidup sendiri, dengan kata lain, manusia selalu membutuhkan orang lain untuk menghadapi berbagai tantangan yang ada dalam kehidupannya. Manusia dituntut untuk dapat bekerja sama dalam mengatasi dan menanggulangi masalah krisis pangan yang saat ini terjadi. Kerja sama tersebut dapat berupa pengumpulan ide ide untuk mengatasi masalah tersebut, atau pun saling membantu sesamanya yang merasakan dampak lebih dalam krisis tersebut.

Fungsi dan Tujuan Hukum

Fungsi dan tujuan hukum dalam mengatasi dan menanggulangi krisis pangan dan energi adalah dengan menegaskan hukum-hukum untuk mengontrol penggunaan dan pengelolaan sumber daya alam yang ada. Dengan begitu, diharapkan masyarakat akan lebih bertanggung jawab dalam penggunaan dan pengelolaan sumber daya, dan hal tersebut akan mengakibatkan berkurangnya tekanan akibat krisis tersebut.

Nilai Spiritual dan Kejujuran

18 May

Nilai spiritual berhubungan dengan sesuatu yang sakral suci dan agung. Nilai spiritual merupakan nilai tertinggi dan bersifat mutlak karena bersumber pada Tuhan Yang Maha Esa. Nilai ini dianggap sebagai kendali dalam memilih kehidupan yang baik dan buruk.

Kejujuran merupakan sesuatu yang baik yang dilakukan sesuai dengan hati nurani dan sesuai dengan norma yang berlaku. Jujur berarti lurus hati, tidak berbohong, tulus. Nilai kejujuran sangat penting mengingat di kalangan masyarakat, kujujuran sudah banyak berkurang. Terdapat dua bentuk kejujuran, yaitu kejujuran terhadap diri sendiri dan kejujuran terhadap orang lain. Kejujuran terhadap diri sendiri adalah suatu sikap lurus seseorang ketika dihadapkan pada pilihan sikap yang baik dan buruk. Kejujuran terhadap orang lain adalah sikap lurus seseorang dalam komunikasinya dengan orang lain. Kejujuran terhadap orang lain terbagi lagi menjadi dua, yaitu sikap terbuka dan sikap wajar. Sikap terbuka adalah sikap sebagai apa adanya diri kita. Sikap wajar adalah bersikap objektif, dengan memperlakukan orang berdasarkan ukuran-ukuran standar bagaimana seseorang itu menghargai hak orang lain sebagaimana mestinya dan tidak bertentangan dengan hati nurani.

Sumber Akhlak dan Budi Pekerti

18 May

Agama berdasarkan asal katanya, dari bahasa sansekerta, a berarti tidak dan gam berarti kacau jadi agama berarti tidak kacau. Berdasarkan pengertian dari akar kata, maka intinya adalah ikatan yang berasal dari sesuatu kekuatan yang lebih tinggi dari manusia sebagai kekuatan gaib yang tidak dapat ditangkap oleh panca indera, namun mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap kehidupan manusia. Dalam praktek hidup sehari-hari, motivasi yang terpenting dan terkuat bagi manusia terutama bagi para pelaku moral adalah agama. Setiap agama mengandung ajaran moral yang menjadi pegangan bagi perilaku para penganutnya. Secara struktural fungsional agama melayani kebutuhan-kebutuhan manusia untuk mencari kebenaran dan mengatasi serta menetralkan berbagai hal buruk dalam kehidupan. Semua agama menyajikan formula-formula tersebut yang pada hakikatnya bersifat mendasar dan umum, berkenaan dengan eksistensi dan perjalanan hidup manusia, yang masuk akal dan rasional sesuai dengan keyakinan keagamaannya, mendalam serta penuh dengan muatan-muatan emosi dan perasaan yang manusiawi. Agama tidak mengalami perubahan, tetapi yang berubah adalah tradisi keagamaan atau sistem-sistem keyakinan keagamaan, sedangkan teks suci atau doktrin agama itu sendiri, sebagaimana tertuang dalam kitab suci, tetap tidak berubah. Kehidupan dalam kelompok terkecil maupun kelompok luas masyarakat dan lingkungan, didasarkan oleh keyakinan agama yang kemudian membudaya dalam diri dan lahir menjadi tradisi.

Falsafah hidup merupakan kristalisasi dari nilai-nilai yang diyakini kebenarannya, ketepatan dan manfaatnya yang kemudian menimbulkan tekad untuk mewujudkannya dalam bentuk sikap, tingkah laku, dan perbuatan. Dalam kehidupan masyarakat terdapat banyak nilai yang diyakini kebenarannya, kemudian dijadikan falsafah hidup dipakai sebagai sumber dalam berperilaku. Oleh karena itu, falsafah hidup yang berlaku di setiap kelompok masyarakat berbeda-beda. Falsafah hidup bukan timbul seketika atau dalam waktu yang singkat saja, melainkan melalui proses waktu yang lama dan terus-menerus sehingga hasil pemikiran itu dapat teruji kebenarannya. Dalam proses pembentukan falsafah hidup, dapat terjadi perubahan-perubahan dasar falsafah hidup itu.

Tradisi sama dengan adat kebiasaan yang dimunculkan oleh kehendak atau perbuatan sadar yang telah menjadi kebiasaan sekelompok orang. Ada 2 faktor penting yang melahirkan adat kebiasaan, yang pertama adanya kecenderungan hati kepada perbuatan itu. Yang kedua, adalah adanya praktek yang diulang-ulang sehingga seseorang menjadi terbiasa melakukan perbuatan tersebut. Diantara kedua faktor tersebut, faktor yang kedualah yang sangat menentukan sebab walaupun ada kecenderungan hati tetapi apabila tidak ada kesempatan untuk memunculkan perbuatan, maka kecenderungan hati itu tidak akan terealisasi.

Budaya dapat didefinisikan secara sempit dan luas. Secara sempit budaya mencakup kesenian dengan semua cabang-cabangya, sedangkan secara luas, budaya mencakup semua aspek kehidupan manusia. Secara formal, budaya didefinisikan sebagai tatanan pengetahuan, pengalaman, kepercayaan, nilai sikap, makna, hierarki agama, waktu, peranan, hubungan ruang dan lain-lain. Budaya meliputi semua peneguhan perilaku yang diterima selama satu periode kehidupan. Budaya juga berkenaan dengan bentuk dan struktur fisik serta lingkungan sosial yang mempengaruhi kehidupan kita. Sebagian besar pengaruh budaya terhadap kehidupan kita tidak kita sadari. Fungsi budaya sebagai sumber akhlak dan budi pekerti dapat dilihat dari model-model perilaku dan komunikasi manusia dalam masyarakat pada tempat dan kurun waktu tertentu.

Ilmu pengetahuan pertama kali muncul dari rasa ingin tahu akan keterangan mengapa sasuatu hal terjadi yang kemudian dikaitkan dan digolongkan sehingga hal-hal yang tersendiri itu dianggap mewakili suatu peristiwa yang lebih umum. Di kalangan ilmuan ada keseragaman pendapat, yaitu bahwa ilmu selalu tersusun dari pengetahuan secara teratur. Untuk membuktikan apakah isi pengetahuan benar, perlu berpangkal pada teori kebenaran pengetahuan. Teori pertama bertitik tolak pada adanya hubungan dalil. Kedua, pengetahuan itu benar bila ada kesesuaian dengan kenyataan. Ketiga, pengetahuan itu benar apabila mempunyai konsekuensi praktis dalam dirinya. Sehubungan dengan proses perolehan ilmu pengetahuan dengan metode yang benar dan teruji kebenarannya secara ilmiah, maka ilmu pengetahuan dijadikan sumber yang memberikan motivasi untuk melakukan sebuah perbuatan baik dan berbudi pekerti luhur.

Akhlak, Budi Pekerti, dan Pemantapan Interaksi Sosial

18 May

Pengertian akhlak adalah tingkah laku seseorang yang didorong oleh suatu keinginan secara sadar untuk melakukan suatu perbuatan yang baik. Kata akhlak dalam arti yang lebih mendalam berarti perangai yaitu sifat dan watak seseorang, bila sifat dan watak melekat pada suatu pribadi maka menjadi kepribadian. Perangai menjadi baik atau buruk tergantung dari faktor dalam diri sendiri dan dari luar. Faktor dari luar termasuk keluarga dan lingkungan. Melalui keluarga dapat terbentuk kepribadian.

Secara terminologi, budi pekerti merupakan kata majemuk dari kata budi dan pekerti. Budi ialah yang ada pada manusia, berhungan dengan kesadaran, yang didorong oleh pemikiran, rasio disebut karakter. Pekerti ialah apa yang terlihat pada manusia, karena didorong oleh perasaan hati, yang disebut behaviour. Jadi, budi pekerti adalah perpaduan dari hasil rasio dan rasa yang bermenifestasi pada  karsa dan tingkah laku manusia. Rasio mempunyai tabiat kecenderungan kepada keingintahuan dan mau menerima yang logis, dan sebaliknya tidak mau menerima yang anlogis, yang tidak masuk akal. Di samping rasio, manusia mempunyai unsur rasa. Perasaan manusia selalu berhubungan dengan pengalaman, pendidikan, pengetahuan, dan suasana lingkungan. Demikian pula perasaan manusia dipengaruhi oleh keyakinan yang diyakini tentang kebenaran dan kebaikan.

Akhlak yang baik terhadap Tuhan adalah berkata-kata dan bertingkah laku yang terpuji, baik melalui penyembahan langsung maupun melalui perilaku-perilaku tertentu yang mencerninkan komunikasi dengan Tuhan. Akhlak terhadap Rasul adalah meneladani Rasul dalam setiap perilakunya. Akhlak terhadap diri sendiri adalah menyayangi dan menjaga diri dari perbuatan buruk. Akhlak kepada orang tua adalah berkomunikasi dengan lemah lembut dengan tutur kata yang sopan santun. Akhlak terhadap keluarga dilakukan dengan menjaga nama baik keluarga, berbakti kepada ibu bapak, mendidik anak-anak dengan kasih sayang, memelihara hubungan silaturahim. Akhlak terhadap  tetangga dilakukan dengan saling mengunjungi, saling membantu di waktu senang dan susah, saling menghormati dan menghindari permusuhan serta pertengkaran. Akhlak terhadap masyarakat dilakukan dengan mewujudkan kemauan bersama untuk perdamaian dengan menggalang kesadaran kolektif. Akhlak terhadap negara dilakukan dengan mencintai negerinya dan menjadi warga negara yang baik dengan taat pada peraturan dan perundang-undangan yang berlaku di negara ini. Akhlak terhadap alam berarti menyikapi alam dengan cara memelihara kelestariannya.

Bentuk umum dari interaksi sosial adalah merupakan syarat utama terjadinya berbagai aktivitas kemasyarakatan, menyangkut hubungan antar orang perorang, antar kelompok per kelompok manusia, maupun antar orang dengan perkelompok. Toleransi berarti bersikap atau bersifat menenggang pendirian yang berbeda atau bertentangan dengan pendiriannya sendiri.

Hukum

18 May

Pengertian Hukum

  1. ž  Aristoteles: Hukum tertentu adalah sebuah hukum yang setiap komunitas meletakkan hukum ia sebagai dasar dan  mengaplikasinya kepada anggotanya sendiri.
  2. ž  Grotius: Hukum adalah sebuah aturan tindakan moral yang akan membawa kepada apa yang benar.
  3. ž  Hobbes: Hukum adalah sebuah kata seseorang, yang dengan haknya, telah memerintah pada yang lain.

Fungsi Hukum

  1. ž  Sebagai alat pengatur tata tertib hubungan masyarakat.
  2. ž  Sebagai sarana untuk mewujudkan keadilan sosial lahir dan batin
  3. ž  Sebagai sarana penggerak pembangunan
  4. ž  Sebagai penentuan alokasi wewenang
  5. ž  Sebagai alat penyelesaikan sengketa

Tujuan Hukum

  1. ž  Aristoteles: tujuan hukum menghendaki keadilan semata-mata dan isi dari hukum ditentukan oleh kesadaran etis mengenai apa yang dikatakan adil dan apa yang tidak adil.
  2. ž  Prof. Soebekti: tujuan hukum adalah melayani kehendak negara.
  3. ž  Geny (Teori Ethic): tujuan hukum adalah untuk keadilan semata-mata.
  4. ž  Jeremy Bentham (Teori Utility): Hukum bertujuan semata-mata apa yang yang berfaedah bagi orang.
  5. ž  Dengan berbagai peran hukum menurut tokoh-tokoh diatas, maka hukum memiliki fungsi untuk menertibkan dan mengatur pergaulan dalam masyarakat serta menyelesaikan masalah-masalah yang timbul.

Disiplin Hukum

ž  Disiplin hukum adalah sistem ajaran yang menentukan apakah yang seharusnya dilakukan di dalam menghadapi kenyataan tertentu.

Subyek, Obyek dan Peristiwa Hukum

ž  Subjek hukum adalah manusia dan badan hukum yang mempunyai hak dan kewajiban serta berhak, berkehendak dan melakukan perbuatan hukum.

ž  Obyek hukum adalah segala sesuatu yang berguna bagi subyek hukum dan yang dapat menjadi pokok (obyek) suatu hubungan hukum, yang dapat juga disebut sebagai hak, karena merupakan sesuatu yang dapat dikuasai oleh subyek hukum.

ž  Peristiwa hukum adalah semua peristiwa atau kejadian yang dapat menimbulkan akibat hukum antara pihak-pihak yang mempunyai hubungan hukum.